jogi, murid SD kelas 6. ia sangat tekun belajar dan gemar melukis. sehingga ia mendapat julukan
dari teman-temannya " pelukis cilik"
sebagai pelukisjogi sangat membutuhkan biaya untuk keperluan melukis.
padahal ayahnya miskin
sebab atu ayahnya kurang menyenangi kegemaran anaknya
ayahnya kerap marah karena jogi terlelu sibuk dengan lukisannya
menjelang libuaran semester , pak lae guru sbk jogi di sekolah membimbing semua muridnya untuk mengadakan pameran lukisan di sekolah. lukisan yang di pamerkan karya anak2
sendiri ... dalam pameran tersebut lukisan jogi sangat dikagumi pengunjung
malang, rintangan berat menimpa jogi lagi.
ayahnya meninggal dunia...
sejjak itu jogi menjadi anak pendiam... ia berhenti sekolah kemudian menghilang
entah kemana..... tapi dengan perantaraan somba d ketahui bahwa jogi telah meninggalkan kota nya ........ a pergi bersama pak alogo ,, pelukis pengembara
.....................
KENAPA ?
warna api merah .. tangan jogi meraih pensil warna merah
lalu di guratnya ke permukaan kertas gambar
... berulang - ulang di lakukannya sehingga tebl. tangannya berhenti sejenak .. warna api bukan merah saja
, tapi harus ada warna lainnya yaitu jingga ,, pikirnya sesaat
dengan cekatan di tukarnya pensil warna yang merah dengan warna jingga ..
merah berpadu dengan jinggga ... nyala api seedang berkkobar membakar sebuah rumah....
jogi sedang menggambar rumah terbakar
sejenak jogi menyipitkan matanya .. lidahnya menjulur keluar karena terlalu asyik ... tubuhnya menelungkup repat ke lantai
.. rumahnya berbentuk rumah panggung .. rumah itu mempunyai kolong
dari luar terdengar suara mak memanggil ayah
''ayah lihatlah itu kerjaan anak mu
dari tadi di surujh mengantar padi ke kincir tapi belum berangkat-berangkat juga...................
"mana anak itu biar ku kasih pelajaran anak itu"
suara ayah dari luar terdengar sangat tidak bersahabat jogi ketakutan dan langsung memberseskan semua alat gambarnya yang ia pinjam dari somba
" sedang apa kamu " tanya ayah kepada jogi dengan nada geram
" se... dang gam.....bar yah" jawab jogi dengan ketakutan melihat wajah ayahnya yang tampak sangat marah kepadanya
dasar anak tak tahu kerjaan dari tadi di suruh ibu mengantar padi kekincir tapi belum berangkat juga
...
ayah kemudian mengambil semua alat manggambar jogi yang ia pinjam dan menghempaskannya ke tanah
seraya berkata " dari mana kamu mempunyai uang untuk membeli alat gambar itu
pasti kamu mencuri yah"
sebentar kemudian ayah terbatuk-batuk dan tersungkur di atas lantai
" uhuk..uhuk..uhuk.."
melihat itu jogi yang terasa kasihan kepada ayahnya itu ia mendekatinya dan mengelus pundak ayahnya itu
sementara itu ibu langsung masuk kekamar dan menghempas kan pintu kamar dengan sangat keras
" makanya yah jangan terlalu banyak marah- marah "
" ibu sekarang sudah berbeda dengan ibu yang dulu"
jogi hanya diam mendengar perkataan ayahnya itu
" tahukah kau jogi mengapa aku melarang mu untuk menjadi pelukis"
" aku tidak tahu ayah"
" ayah tidak ingin kamu menjadi pelukis karena menjadi pelukis adalah pekerjaan yang sia-sia
saja dan tidak menghasilkan apa apa"
"lukisan laku di jual kan yah''
" kalau laku ... kalau sebaliknya bagaimana"
jogi hanya terdiam mendengar perrnyataan ayah
... berulang - ulang di lakukannya sehingga tebl. tangannya berhenti sejenak .. warna api bukan merah saja
, tapi harus ada warna lainnya yaitu jingga ,, pikirnya sesaat
dengan cekatan di tukarnya pensil warna yang merah dengan warna jingga ..
merah berpadu dengan jinggga ... nyala api seedang berkkobar membakar sebuah rumah....
jogi sedang menggambar rumah terbakar
sejenak jogi menyipitkan matanya .. lidahnya menjulur keluar karena terlalu asyik ... tubuhnya menelungkup repat ke lantai
.. rumahnya berbentuk rumah panggung .. rumah itu mempunyai kolong
dari luar terdengar suara mak memanggil ayah
''ayah lihatlah itu kerjaan anak mu
dari tadi di surujh mengantar padi ke kincir tapi belum berangkat-berangkat juga...................
"mana anak itu biar ku kasih pelajaran anak itu"
suara ayah dari luar terdengar sangat tidak bersahabat jogi ketakutan dan langsung memberseskan semua alat gambarnya yang ia pinjam dari somba
" sedang apa kamu " tanya ayah kepada jogi dengan nada geram
" se... dang gam.....bar yah" jawab jogi dengan ketakutan melihat wajah ayahnya yang tampak sangat marah kepadanya
dasar anak tak tahu kerjaan dari tadi di suruh ibu mengantar padi kekincir tapi belum berangkat juga
...
ayah kemudian mengambil semua alat manggambar jogi yang ia pinjam dan menghempaskannya ke tanah
seraya berkata " dari mana kamu mempunyai uang untuk membeli alat gambar itu
pasti kamu mencuri yah"
sebentar kemudian ayah terbatuk-batuk dan tersungkur di atas lantai
" uhuk..uhuk..uhuk.."
melihat itu jogi yang terasa kasihan kepada ayahnya itu ia mendekatinya dan mengelus pundak ayahnya itu
sementara itu ibu langsung masuk kekamar dan menghempas kan pintu kamar dengan sangat keras
" makanya yah jangan terlalu banyak marah- marah "
" ibu sekarang sudah berbeda dengan ibu yang dulu"
jogi hanya diam mendengar perkataan ayahnya itu
" tahukah kau jogi mengapa aku melarang mu untuk menjadi pelukis"
" aku tidak tahu ayah"
" ayah tidak ingin kamu menjadi pelukis karena menjadi pelukis adalah pekerjaan yang sia-sia
saja dan tidak menghasilkan apa apa"
"lukisan laku di jual kan yah''
" kalau laku ... kalau sebaliknya bagaimana"
jogi hanya terdiam mendengar perrnyataan ayah